Selasa, 19 April 2011

Cinta Ku Bawa Mati

Raya bingung, entah sejak kapan dia mulai menyadari perubahan yang dialami tunangannya, Aline. Aline yang dia kenal adalah sosok wanita yang nyaris sempurna, dengan segala kelembutan hati dan kecantikan paras yang dia miliki membuat Raya semakin yakin untuk menikahi pujaan hatinya. Namun kini semua seperti memudar, bukan cintanya pada Aline dan sebaliknya, sikap Aline lah yang membuatnya nampak berbeda, dia seperti menutupi sesuatu, setidaknya itulah yang dirasakan Raya.

Aline yang kini termenung sendiri di dalam kamarnya kembali terisak, Raya yang begitu ia cintai harus ia lepas hanya untuk sebuah alasan, mungkin benar bahwa Raya bisa memaklumi bahkan bisa ia pastikan itu, tapi Aline dengan cintanya yang sungguh besar dan tulus itu menginginkan Raya mendapatkan yang terbaik dan itu bukanlah dirinya. Kenapa? Kata ini selalu membayang di benak Aline juga Raya. Sesungguhnya dua minggu yang lalu Aline pergi memeriksakan kondisinya ke dokter, sudah berkali-kali Aline merasakan sesuatu yang aneh dengan rahimnya. Namun apa yang dia ketahui? Dokter mengatakan bahwa ada tumor yang menempel pada rahimnya, dan tentu saja dokter menyarankan untuk mengangkat rahim Aline, yang berarti ia tidak bisa menghasilkan keturunan, buah hati, anak yang tentu saja didambakan Raya kelak. Dengan segala perasaan yang ia korbankan maka Aline mulai menjauhi Raya, pria yang sudah ada di hatinya sejak tujuh tahun yang lalu tepatnya ketika ia merasakan indahnya menjadi murid SMA. Ya, memang benar kisah cinta mereka berdua betul-betul indah, banyak sekali kenangan yang tergores pada lembar kehidupan mereka, dan apakah ini akhir yang harus mereka hadapi? Berpisah?

Sedang sibuk merenung di tengah-tengah isakan tangis yang begitu pilu, Aline mendengar seseorang sedang menggoyang-goyangkan gembok pagar rumah yang menandakan kehadirannya di luar sana. Aline beranjak, menyibak gorden kelabunya, ia menajamkan tatapannya di tengah hujan lebat yang mengguyur sore itu. Baru saja sebentar iya memfokuskan pandangan, Aline mengetahui bahwa itu adalah Raya, kekasih yang teramat ia cintai dan kasihi. Kaki Aline lemas, ia tersungkur, kembali terisak tentunya. Ia tak kuasa berhadapan dengan Raya, rapat-rapat dia tutup telinganya agar menghilangkan suara dentuman gembok dari luar sana. Ibu Aline menengok ke kamar.

“Nak, Raya di depan, mau kamu temui atau tidak?” tatapan sang ibu begitu sayu, melihat buah hatinya yang tersiksa hati dan fisiknya. Tak ada jawaban, yang ada hanya isak tangis. Sang ibu berjalan mendekati Aline.

“Sudahlah nak, ibu sedih melihat mu terus menangis, temui Raya dan katakan semuanya, jangan kau pendam sendiri, ibu tidak tega melihat mu begitu terpuruk.” Ibu Aline mulai meneteskan air matanya, dengan lembut ia belai rambut anaknya yang begitu ia kasihi.

“Bu, Aline mencintai Raya, sangat cinta, bagaimana bisa Aline bertahan dengan kondisi seperti ini? Tapi lebih menyakitkan lagi ketika Aline harus berhadapan dengan Raya dan mengatakan kenyataan yang sungguh pahit itu bu.” Aline berusaha berbicara walau dadanya terasa sesak.

“Nak, temui dia untuk yang terakhir kalinya, setidaknya kamu memberikan alasan yang jelas, Raya pasti sangat sedih mengetahui orang yang sangat ia cintai tiba-tiba meninggalkannya tanpa pernah berbicara sesuatupun padanya, apalagi kalian sudah merencanakan pernikahan! Demi Tuhan temui Raya nak.” Sang ibu memegang wajah putrinya lalu dikecup keningnya, sepertinya sang ibu mengirimkan sejuta kekuatan pada anaknya yang malang itu.

Dengan gontai Aline berjalan ke ruang tamu, penampilannya sangat kacau, rambutnya yang panjang tergerai tak beraturan, matanya sembab, dan kulitnya begitu pucat, tak seperti Aline yang dulu, dengan rambut lurus yang ia sisir rapih, mata yang bersinar dan kulit putihnya yang menawan. Raya yang melihat penampilan Aline langsung berdiri dan meraih tubuh Aline dan dipeluknya gadis itu. Aline yang berada di dalam pelukan Raya tak kuasa membendung perasaannya, perasaan senang, rindu, namun ini sungguh sakit.

“Apa yang terjadi padamu Lin? Kamu menghilang, tak pernah mengabariku, kenapa? Apa yang terjadi padamu? Coba ceritakan padaku, pada calon suamimu.” Raya memegang kedua lengan Aline, dan menatapnya dalam. Aline yang mendengar kata ‘calon suamimu’ semakin tak karuan perasaannya, dengan teguh dia muali berbicara.

“Aku mau kita pisah, jangan pernah tanyakan mengapa, aku rasa ini jalan yang terbaik, aku ingin kamu pergi dan mulai mencari seseorang yang jauh lebih pantas untuk menggantikan ku sebagai calon istrimu, ini sudah berakhir Raya, pergilah.” Aline melepaskan tubuhnya dari genggaman Raya, dengan nada yang begitu datar ia memerintahkan Raya untuk pergi.

“Aline! Apa yang kau katakan barusan? Apabila kamu sedang dalam masalah tolong ceritakan padaku, kita sudah bersama selama tujuh tahun, dan aku tentu saja tak bisa menerima begitu saja kepergianmu, lihatlah Aline! Kamu sudah ku pakaikan cincin pertunangan kita, sebentar lagi kita menikah, apa yang membuat mu seperti ini? Tolong jangan suruh aku pergi menjauh..” nada bicara Raya yang awalnya tinggi kini merendah, ia tertunduk, ia menangis, ia perhatikan wajah Aline yang sungguh berbeda itu, mencoba mencari suatu alasan yang membuatnya ingin berpisah. Aline ikut menangis, sungguh tak kuasa ia menahan perasaannya, namun ia berusaha tegar di depan Raya, ia tak ingin terlihat seperti orang yang terpaksa, ia ingin meyakinkan Raya.

“Aline.. tolong bicara padaku, aku tahu kamu sangat mencintaiku begitupun aku Lin, pikirkan baik-baik keputusanmu, kita hampir menikah, tidakkah kamu ingat ketika aku datang kepadamu dengan gitar menyanyikan sebuah lagu? Itu pertama kalinya kamu tahu perasaanku kan? Begitu mudahkah kamu melepas itu semua? Apa aku menyakiti mu Lin?” Raya mencoba meyakinkan Aline.

“Jika kau menyayangiku tolong tinggalkan aku, aku sudah tidak mencintaimu lagi, jangan paksa aku untuk menikahimu, jangan paksa aku kembali padamu, bukan karena kamu menyakitiku, aku hanya ingin lepas dari orang yang tidak ku cintai sama sekali, tolong pergi.”

“Hahaha, kamu berbohong Lin! Tidak mungkin secepat itu kamu melupakan Raya! Raya, pria yang begitu kau cintai, jangan bohong padaku.”

“Aku tidak berbohong! Aku mencintai pria lain, jauh sebelum kita bertunangan, dan dia jauh lebih baik darimu! Tolong jauhi aku.”

“Tidak mungkin Lin! Kamu pasti berbohong, pria mana? Coba sebutkan namanya!” Raya mulai emosi.

“Itu bukan urusanmu Raya Agung Pratama! Silahkan pergi dari rumahku!”

“Aku tak tahu apa yang merasukimu Aline Rahmadya! Penampilan mu sungguh berbeda, dan aku tahu kamu mengalami stres entah apa penyebabnya, dan kamu jadikan aku sebagai pelampiasan, iya kan?”

“Dasar pria bodoh.” Aline pergi meninggalkan Raya sendiri di ruang tamu, sebenarnya ia pergi karena tak kuat berpura-pura kuat di hadapan Raya. Raya yang ditinggal, pergi dengan emosi yang meluap-luap.

Di tengah perjalanan Raya tidak dapat berkonsentrasi dengan pikirannya, di benaknya hanya ada Aline, Aline, dan Aline. Dia belum bisa menerima semua ini, dia berusaha mencari tahu apa yang sedang Aline alami, dan berkali-kali dia berpikir berkali-kali pula jalan buntu yang ia temui. Raya memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi terlebih lagi di tengah hujan deras, dari kejauhan ia melihat sesuatu, samar-samar, dia tidak bisa mengetahui, dan saat itu terjadi...
***
Aline menangis, sangat kencangnya air mata yang bergulir di pipinya yang kemerahan, kepalanya berat tetapi kakinya lemas. Dia berjalan perlahan, untung saja ia mengenakan kacamata hitam besar, sehingga tak seorangpun tahun kondisi matanya yang sungguh memprihatinkan. Tubuhnya bergetar, dia berjongkok, meratapi nasibnya yang sungguh memilukan, ingin rasanya dia bunuh diri saat itu juga, dia letakkan seikat mawar putih di atas gundukan tanah merah. Perlahan ia mengelus nisan yang ada di hadapannya, Raya Agung Pratama, itulah nama yang tertera di batu nisan, Aline nampak menahan jeritan yang digantikan dengan cucuran air mata yang tidak ada habisnya. Ini salahnya! Itulah yang ada di benak Aline.

Hari di mana dia memutuskan untuk meninggalkan Raya, disuruhnya Raya pulang dengan gejolak emosi, dan hari itu pula ketika ia terbangun dari tidurnya yang teramat singkat di sore itu, ibunya datang menghampiri dengan wajah yang tak kalah gundahnya, perlahan sang ibu berkata..

“Nak, apa yang kamu inginkan pada Raya kini terwujud, kamu ingin berpisah dengannya, sekarang kamu mendapatkannya, tapi mungkin kamu akan menyesal mendengar kabar ini.”

“Apa yang terjadi bu?” Aline sungguh heran dengan tingkah laku ibunya.

“Raya meninggal dalam kecelakaan sepulangnya dari rumah nak.” Ibu menangis di depan Aline, Aline yang mulanya diam sejenak, berusaha mencerna kata demi kata yang dilontarkan ibunya, seketika itu pula Aline tak sadarkan diri. 


Sekarang.. dia di sini di depan pusara Raya, satu-satunya pria yang pernah hadir di hatinya, pria yang ia cintai, ia kasihi, pria yang akan menjadi suaminya, di sinilah dia terbaring dan takkan pernah tergapai lagi oleh Aline...



wahahaha cerpennya melankolis banget yah? yaaa sekali kali nyobain yang rada seriusan gitu looooh, rada galau sedikit biar mirip sama kondisi penulisnya yegaaaaa? sip haha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar